Dalam wawancara kerja, berpakaian pantas dalam wawancara kerja memang harus di perhitungkan dengan matang. Mempersiapkan pakaian dalam wawancara kerja harus masuk daftar persiapan anda sebelum bertemu dengan orang yang akan mewawancarai anda. Karena setiap perusahaan memiliki kebiasaan-kebiasaan/budaya perusahaan yang berbeda, maka perlu mencari tahu budaya berpakaian di perusahaan tempat anda melamar. Secara umum sebetulnya, ada beberapa tips yang bisa dipakai , antara lain:
dapatkan informasi tentang perusahaan yang akan mewawancarai Anda. Temukan apakah perusahaan diatas mempunyai budaya berpakain FORMAL atau INFORMAL atau SEMI FORMAL atau BEBAS? Jadikan diri anda sebagai bagian dari perusahaan di mana anda wawancara, jangan sekali – kali terlihat "aneh'. Siapkan pakaian anda sesuai dengan posisi yang akan dilamar. Untuk pelamar pria kemeja lengan panjang dan berdasi bisa di siapkan untuk wilayah perkotaan, jas bisa dipakai bila posisi anda cukup tinggi; misalnya manajer, direktur dan sejenisnya. Pakaian semi formal bisa disiapkan bila tempat kerja yang anda tuju ada di wilayah subur, daerah wisata, misalnya: Bali’ (walau tidak selalu) Pada dasarnya pakaian yang rapi, bersih dan diseterika rapi adalah patokan utama dalam berpakain. Perhatikan corak dan warna, jangan terlalu nge ’JRENG, atau membuat orang tiba–tiba ingin menoleh ketika anda lewat. Pelamar wanita harus berpakaian yang elegan, sopan dan tetap menampilkan kewanitaan anda. Jangan berpakaian terlalu ketat di wilayah terutama: rok bawah, kancing baju atas.
Gunakan pakaian dengan corak,desain, warna teduh, wajar dan simple (hal ini tidak berarti akan mengurangi penampilan anda di mata pewawancara) Gunakan parfum dan beraroma lembut, tidak menyengat (tanyakan teman anda apakah dalam jarak 3 meter bau parfum anda masih tercium. Kalau Ya! Artinya anda berlebihan dalam menggunakan wewangian) .
Perhiasan dapat anda gunakan, tapi cukup seperlunya saja. Berkaca-lah sebelum tampil di depan pe-wawancara, yakinkan anda telah mempersiapkan yang terbaik. Ingat berpakaian-pun perlu berlatih, loh!
Selamat berlatih dan semoga sukses!!
“Dan hendaklah ada di antara kamu sekalian segolongan yang mengajak kepada kebajikan dan menyuruh pada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung” [ Q.S. Ali Imron, ayat: 104 ]
Tampilkan postingan dengan label Cyber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cyber. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Maret 2013
Rabu, 20 Februari 2013
Nadzar Abdul Muthalib
Abdul Muthalib bernadzar karena Allah Azza Wajalla
ketika diperintah menggali sumur zam zam. jika telah selesai menggali sumur zam
zam dengan sempurna, dan dia mempunyai sepuluh anak laki-laki maka dia akan
menyembelih salah satunya karena Allah Azza Wajalla. maka Allah menambah
kemulyaannya dan kemulyaan anaknya, maka dilahirkan untuknya sepuluh anak
laki-laki dari enam istri yaitu : 1) Al Harits, 2) Abdullah, 3) Abu tholib, 4)
Az Zubair, 5) Al Abbas, 6) Dhiror, 7) Abu Lahab, 8) Al Ghoidaq, 9) Hamzah, 10) Al
Muqowwam, ketika sempurna anak laki-lakinya yang berjumlah sepuluh, dan agung
kemulyaannya. dia menggali sumur zam zam dan telah sempurna baginya air
minumnya maka dia mengundi anak-anaknya, siapa yang harus disembelih, maka
keluarlah dalam undian itu kepada Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Rosululloh
Sholallohu ‘alaihi Wasallam.
Lantas berdirilah Abdul Muthalib untuk menyembelih
Abdullah, putra kesayangannya, dan berdiri pula paman-paman dari pihak ibunya
dari Bani Makhzum, dan pembesar-pembesar Quraisy lainnya serta orang-orang yang
berpikiran cemerlang di antara mereka. mereka berkata, ”Kamu jangan menyembelih
putramu itu, karena jika kamu lakukan akan menjadi kebiasaan orang-orang Arab”,
dan berdiri pula anak-anaknya bersama-sama orang Quraisy tentang itu. maka
berkatalah orang-orang Quraisy kepada Abdul Muthalib, ”Sesungguhnya di tanah
Hijaz ada seorang dukun yang mempunyai pengikut jin, maka bertanyalah kamu
kepadanya, maka kamu harus tetap di atas urusanmu. jika dukun itu menyuruhmu
untuk menyembelihnya, maka sembelihlah. Dan jika dukun itu memberi jalan keluar
lainnya, maka terimalah.”
Berangkatlah mereka kepada dukun Hijaz untuk
menanyakannya, dan berceritalah Abdul Muthalib tentang nadzarnya. Berkatalah si
dukun, ”Pulanglah kalian pada hari ini sehingga datanglah padaku jin yang
mengikuti aku, maka aku akan bertanya kepadanya.” Maka pulanglah mereka
semuanya hingga hari esok. Kemudian mereka berpagi-pagian datang kepada si
dukun, maka berkatalah dia, ”Ya, telah datang padaku kabarnya. Berapakah denda
di antara kalian?”
Mereka menjawab, ”Sepuluh onta”
Mereka menjawab, ”Sepuluh onta”
Berkatalah si dukun, ”Pulanglah ke negaramu dan
berkurbanlah sepuluh onta, buatlah panah undi nasib di atas onta dan di atas
temanmu (Abdullah). Maka jika yang keluar itu onta, maka sembelihlah onta itu.
Dan jika yang keluar undiannya itu temanmu, maka tambahlah sepuluh onta lagi
kemudian buatlah panah undi nasib atas keduanya. Sehingga ridho Tuhan kalian,
jika yang keluar itu onta, maka sembelihlah onta-onta itu. Maka sungguh telah
ridho Tuhan kalian dan selamat teman kalian”
Maka pulanglah orang-orang Quraisy ke Mekkah, lantas
Abdul Muthalib mengundi atas Abdullah dan atas sepuluh onta, ternyata undiannya
yang keluar adalah Abdullah. Orang-orang Quraisy pun berkata, ”Wahai Abdul
Muthalib, tambahlah untuk Tuhanmu hingga ridho”. Maka tidak henti-hentinya
ditambah sepuluh onta, tetapi undian yang keluar tetap Abdullah.Orang-orang
Quraisy pun berkata, ”Tambahlah untuk Tuhanmu sampai Dia ridho”. maka Abdul
Muthalib terus melakukannya sampai seratus onta. Maka keluarlah undian itu atas
seratus onta.Berkata orang-orang Quraisy atas Abdul Muthalib, ”Sembelihlah!
sesungguhnya Tuhanmu telah ridho.”
Dia berkata,”Kalau begitu aku tidak adil kepada
tuhanku sampai keluar undian tiga kali”. Maka Abdul Muthalib mengundi lagi atas
Abdullah dan atas seratus onta, maka tiap-tiap diulang, ternyata yang keluar
adalah onta. Ketika undian tiga kali berturut-turut keluar seratus onta, maka
Abdul Muthalib menyembelih onta-onta itu di dalam jurang-jurang, di
lereng-lereng, dan di puncak-puncak gunung. Tidak dihalangi daripadanya manusia,
burung dan binatang-binatang buas. Maka tertarik orang-orang desa di sekitar
Mekkah untuk mengambil daging-daging diyat, dan binatang-binatang pun saling
berebut sisa-sisa yang masih tertinggal, sedangkan Abdul Muthalib dan
anak-anaknya tidak seorang pun yang ikut memakan onta-onta yang disembelihnya
sebagai diyat, dan sejak saat itulah berlaku bahwa diyat itu seratus onta.
Kemudian datang Islam menetapkan bahwa diyat adalah seratus onta.
Ketika Abdul Muthalib pulang menuju rumahnya, dia
bertemu dengan Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhroh bin Kilab yang sedang duduk di
Masjidil Harom. Wahb adalah seorang bangsawan Quraisy yang paling mulia di kota
Mekkah waktu itu. Maka (terjadilah kesepakatan) Wahb menikahkan putrinya yang
bernama Aminah dengan Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah dari Rosulillah
Sholallohu ‘alaihi Wasallam.
Di dalam riwayat lain secara ringkas diriwayatkan oleh
Al Azroqi: Sehingga memungkinkan bagi Abdul Muthalib untuk menggali sumur zam
zam dan sangat berat sakitnya (dalam mengerjakannya). Maka Abdul Muthalib
bernadzar jika Allah memberi anak laki-laki kepadanya sepuluh orang, maka salah
satunya akan disembelih. Kemudian Abdul Muthalib menikah dengan beberapa
perempuan lantas dilahirkan baginya sepuluh anak laki-laki. Ketika diadakan undian
maka keluarlah undiannya kepada Abdullah bin Abdul Muthalib, anak yang paling
disayanginya. Maka berdoalah dia,”Ya Allah, apakah dia yang lebih Engkau
senangi ataukah seratus onta?”. Kemudian Abdul Muthalib mengundi lagi antara
Abdullah dan seratus onta, maka keluarlah undian atas seratus onta. Oleh sebab
itu, maka Abdul Muthalib menyembelih seratus onta sebagai diyat.
Demikianlah apa yang Allah kehendaki pasti terjadi,
dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidaklah akan terjadi. Allah Ta’ala telah
memelihara ayah Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wasallam dari penyembelihan dan
ditebus dengan seratus onta. Supaya menjadi kenyataan kehendak Allah yang akan
menjadikan Abdullah bin Abdul Muthalib menjadi perantara lahirnya seorang Nabi
yang mulia yaitu Nabi Muhammad Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wasallam, yang
menjadi penghulu dunia dan menjadi rohmat bagi segenap alam.
Langganan:
Postingan (Atom)