Tampilkan postingan dengan label nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nabi. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Februari 2013

Visi Misi LDII


Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Merupakan salah satu Ormas Islam yang ada di Indonesia dan diakui oleh Pemerintah, berikut di bawah ini salah satu bukti yang ada :




Berikut adalah Visi dan Misi :

A. VISI:
Untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mempunyai Visi sebagai berikut:
“Menjadi organisasi dakwah Islam yang profesional dan berwawasan luas, mampu membangun potensi insani dalam mewujudkan manusia Indonesia yang melaksanakan ibadah kepada Allah, menjalankan tugas sebagai hamba Allah untuk memakmurkan bumi dan membangun masyarakat madani yang kompetitif berbasis kejujuran, amanah, hemat, dan kerja keras, rukun, kompak, dan dapat bekerjasama yang baik”

B. MISI:
Sejalan dengan visi organisasi tersebut, maka misi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) adalah:
“Memberikan konstribusi nyata dalam pembangunan bangsa dan negara melalui dakwah, pengkajian, pemahaman dan penerapan ajaran Islam yang dilakukan secara menyeluruh, berkesinambungan dan terintegrasi sesuai peran, posisi, tanggung jawab profesi sebagai komponen bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”

C. STRATEGI 
Untuk pencapaian MISI LDII tersebut akan dilakukan dengan Strategi sebagai berikut:
  1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia dan meningkatkan kualitas sumberdaya pembangunan yang memiliki etos kerja produktif dan professional, yang memiliki kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berwawasan lingkungan, dan berkemampuan manajemen;
  2. Memberdayakan dan menggerakkan potensi sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kemampuan untuk beramal sholih melakukan pengabdian masyarakat di bidang sosial budaya, ekonomi dan politik;
  3. Menumbuhkembangkan kegiatan usaha dan kegiatan kewirausahaan dalam rangka pembenahan ekonomi umat sesuai tuntutan kebutuhan, baik pada sektor formal maupun informal melalui usaha bersama dan usaha koperasi, serta bentuk badan usaha lain;
  4. Mendorong pembangunan masyarakat madani [civil society] yang kompetitif, dengan tetap mengembangkan sikap persaudaraan [ukhuwwah] sesama umat manusia, komunitas muslim, serta bangsa dan negara, sikap kepekaan dan kesetiakawanan sosial, dan sikap terhadap peningkatan kesadaran hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta membangun dan memperkuat karakter bangsa;
  5. Meningkatkan advokasi, penyadaran dan pemberdayaan masyarakat tentang pentingnya supremasi hukum, kewajiban azasi manusia [KAM], hak azasi manusia [HAM], dan tanggung-jawab azasi manusia [TAM] serta penanggulangan terhadap ancaman kepentinganpublik dan perusakan lingkungan
  6. Meningkatkan advokasi, penyadaran dan pemberdayaan masyarakat tentang pentingnya supremasi hukum, kewajiban azasi manusia [KAM], hak azasi manusia [HAM], dan tanggung-jawab azasi manusia [TAM] serta penanggulangan terhadap ancaman kepentinganpublik dan perusakan lingkungan 

Sumber : www.ldii.or.id

Sabtu, 16 Februari 2013

AWASSS.... Mirip keledai !!!

Nasi sudah menjadi bubur, entah mengapa hewan yang satu ini identik dengan sebuah kedunguan. Orang sering menyebut namanya, sekedar untuk mengatakan sebuah kebodohan. Orang sering memakai namanya untuk melampiaskan ketololan. Banyak kesalahan dan kejelekan yang tidak ia perbuat, tetapi dialamatkan kepadanya. Dasar keledai! Begitulah yang sering telinga kita dengar selama ini, walau banyak juga di antara kita yang belum melihat seperti apa hewan ini. 
awas mirip kelakuan keledai Mungkin dari rupanya yang imut, tubuhnya yang tidak gede-gede amat, tinggi semampai – semeter tak sampai, dan polahnya yang lamban – gemulai, itulah yang mendorong menjadikannya sasaran tembak. Orang seenaknya berprasangka, padahal dia punya peran besar dalam perjalanan sejarah umat manusia, sebagaimana tersebut di dalam Kitab Allah, “Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bighal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS An-Nahl: 7 – 8).

Juga sejak kapan label itu disematkan kepadanya, tak tercatat dalam sejarah. Sebut saja kisah Nasrudin, tokoh sufi di jamannya, ketika bertemu dengan Timur Lenk. Kesatria Mongol yang meluluh-lantakkan dinasti islam itu, menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Tanpa bermaksud menggurui, apalagi tersinggung, dengan kecerdikannya, Nasrudin menerimanya dengan senang hati hadiah keledai tersebut. Sekalipun dengan tugas yang berat, karena Timur Lenk berkata, “Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat bagaimana hasilnya. Apakah binatang dungu ini bisa membaca?”

Semua orang tahu, keledai tidak bisa membaca, tapi bagi Nasrudin itu hal yang berbeda. Nasrudin berlalu dengan keledai di tangan, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana menjawab tantangan. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya. Si keledai menatap buku itu, dan tak lama kemudian mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus-menerus dibaliknya setiap lembar halaman buku itu sampai ke halaman terakhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin. “Demikianlah,” kata Nasrudin, “keledaiku sudah bisa membaca.”

Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca?”

Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

“Tapi,” tukas Timur Lenk dengan ketidak-puasannya, “bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya?”

Nasrudin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya.”

Bagi pecinta lelucon, cerita di atas cukup untuk membuat kedua bibir merekah. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Namun sebenarnya terdapat pesan mendalam dari anekdot di atas. Bukankah masih banyak manusia yang semisal keledai di atas? Allah bahkan sudah mengingatkan; “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang dhalim.” (QS Jumuah: 5). Bagaimana dengan umat islam sendiri?

Fakta membuktikan angka buta huruf Alquran di kalangan mereka yang mengaku islam masih tinggi. Yang melek huruf dan bisa membaca hanya sebagian, kurang dari sepertiga. Itu pun hanya bisa membaca, belum bisa mengetahui isinya: arti dan maknanya. Jadi bukan hanya pemilik Taurat yang seperti keledai sebagaimana Allah sebut di atas, keadaan kita umat islam juga serupa bin sama.

Tak usah menunjuk hidung orang lain, saya pribadi mempunyai kebiasaan yang boleh disebut seperti keledai. Kenapa? Membaca alquran tidak bisa setiap hari. Mengaji al-hadits tidak bisa setiap minggu. Saya suka membawa Al-quran, al-hadits atau kitab sebagai bacaan setiap kali pergi ke kantor. Maksudnya ingin membaca atau menderesnya, jika ada waktu luang. Ternyata sampai saat pulang kembali, buku itu masih tersimpan rapi dalam tas. Tak ada waktu membukanya. Ia hanya nunut bertamasya setiap pagi ke kantor dan balik lagi ke rumah dibalik punggung saya. Saya memanggulnya setiap hari. Kadang saya kaget sendiri ketika membuka tas dan mendapati kitab itu ada di dalamnya. Dengan coolnya dia seperti menampar kesungguhan dan niat baik saya untuk mendalaminya. Astaghfirullah…!

Perilaku saya dalam hal ini, jika tidak saya kontrol dengan baik lambat – laun akan serupa dengan spirit ayat di atas. Wah, lupa deres. Wah, sibuk! Itu sudah menjadi jamak dan menjadi permakluman. Jika tidak dideteksi sejak dini, menyadari sedari awal, semakin banyak kita yang terlena. Hanya bangga punya al-quran dan al-hadits, tetapi cuma sekedar punya. Sekedar memajang atau membawanya. Tanpa mau bersusah – payah membuka, membuka lagi dan mempelajarinya. Tanpa mau dan peduli mengkaji dan menderesnya.

Oleh karena itu, saya melecut diri saya dengan mengumpamakan seperti keledai agar bangkit dan bersemangat lagi uthlubul ilma. Mencari ilmu. Biar semangat lagi deres atau mengulangnya. Semangat ngaji, kalau tidak mau jadi keledai beneran. Jangan sampai Al-quran dan hadits hanya menjadi pajangan saja. Jadi beban bawaan saja tanpa mau mendalami dan mendalaminya yang akhirnya kayak Yahudi, dari lupa kemudian mendustakan. Naudzubillah,,,!!! Semoga kita semua benar – benar menyadari ini semua dan segera merubahnya. Agar semakin lama, semakin khusyu dan istiqomah dalam tuntunan quran hadits yang membahagiakan ini. Apalagi kalau mengingat pesan Allah yang satu ini.

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS al-Hadiid:16)

Masa yang panjang, kehidupan yang tenang, kondisi yang nyaman tanpa halangan, kadang sangat melenakan. Apalagi jika banyak diisi dengan kelupaan dan kemalasan. Dan saya pikir, lebih beruntung keledai yang tak harus berpikir itu semua. Sebab perannya sebagai hewan, yang tak harus dihisap seperti manusia layaknya. Jadi, di kelindan jaman yang disebut modern ini, di kehidupan yang dilabeli globalisasi ini, masih sangat relevan kita meneriakkan peringatan; awas keledai! Sebab masih banyak tingkah – laku muslim sepertinya. Setuju?

Oleh: F.A.


Sumber : http://kmi-s.ppisendai.org